Innalillahi, Lampu Merah Nalegong Sumedang Mati

JNC Sumedang – “Inna Lillahi, lampu merah nalegong Sumedang yang berada di perempatan Islamic Center Mati,” demikian disampaikan pembaca kepada Kami.

Lampu merah dari arah Islamic Center di perempatan Nalegong tersebut, mati ketika seharusnya berwarna Hijau. Dan ini sudah berlangsung cukup lama.

Hal ini memang sering terjadi, bahkan saking seringnya lampu tersebut mati hidup, mungkin petugas dari Dinas Perhubungan juga merasa cape juga.

Lampu merah tersebut, statusnya sama dengan lampu merah yang berada di Jalan Prabu Gajah Agung yang lain seperti di lampur merah Karapyak.

Menurut keterangan dari Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang, lampu tersebut merupakan tanggungjawab Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, sehingga anggaran dan tugasnya juga berada di pihak Provinsi bukan di Pemda Sumedang.

Baca Juga  Polsek Jatinangor Kawal Penyaluran BLT Minyak Goreng 2022 Di Desa Cipacing

Namun demikian pembaca yang ‘cerdas’ berkilah, lah kan gangguannya ada di Sumedang, bahkan di Kota Sumedang yang notabene sejajar dengan Kantor Bupati Sumedang.

“Masa saya sebagai warga, harus lapor ke Provinsi. Apa tugas saya dan apa tanggungjawab saya,” demikian disampaikan netizan ketika informasi ini disampaikan.

Ada benarnya juga, memang harusnya Pemerintah Kabupaten Sumedanglah yang memiliki tugas untuk menjadi penyambung informasi dari Warga. Menyampaikan Informasi ini kepada Pemerintahan yang lebih tinggi, untuk sama-sama memberikan layanan kepada warga, yang pasti bukan hanya untuk warga Sumedang, karena lampu ini berguna untuk seluruh orang yang melintas di sana.

Oh iya, sekedar juga mengingatkan di perempatan tersebut ada juga orang-orang yang setiap hari sejak pagi hingga sore, dengan melukis wajahnya menjadi peminta-minta.

Baca Juga  Budi Daya Padi Organik Lebih Menguntungkan

Seolah seniman, padahal pekerjaannya adalah meminta uang kepada siapa yang lewat di perempatan. Atau lebih tepatnya pengemis berkedok seniman. Sebuah budaya yang mempermalukan dan merendahkan seni dan budaya.

Satu hari, Penulis pernah melihat orang tersebut melakukan koprol di tengah jalan. Entah apa maksudnya, yang jelas ini sangat membahayakan baik baginya maupun pengguna jalan.

Sebagai Kabupaten yang mengusung budaya sebagai ciri khasnya hingga memiliki perda tentang Sumedang Puser Budaya Sunda, serta mengusung Sumedang sebagai Kabupaten Pariwisata. Layakkan pemadangan seperti ini?

DImana rasa dan perasaan para pejabat dan pengelola pemerintahan? Apakah melayani harus setelah ada warga yang komplain? berlama-lama tidak ada tindakan dari Dinas Sosial maupun Dinas Perhubungan, atau juga Satpol PP yang mengawal tentang keamanan dan kenyamanan Sumedang.

Baca Juga  Jadwal Imsak Untuk Wilayah Sumedang dan Sekitarnya 1 Mei 2022

Ataukan sudah mati rasa malunya, Innalillahi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *