Ternyata Benar, Ada Pekerja Proyek Masjid Al Kamil Yang Belum Dibayar

JNC Sumedang – Ada pekerja belum dibayar pada proyek pembangunan Masjid Al Kamil yang berada di Panenjoan, Jatigede Sumedang.

Pekerja tersebut mengaku berinisial M, Dia membenarkan bahwa dirinya belum mendapatkan bayaran atas pekerjaannya sebagai laden dalam pembanguan Masjid Al Kamil, yang pada liburan lebaran 2022 menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi di Sumedang.

Mengaku sebagai warga Desa Sarimekar Kecamatan Jatinunggal, dia bekerja sejak awal pekerjaan Masjid di mulai.

“Iya, memang pekerjaan terakhir saya termasuk lemburan karena kerja kadang hingga jam 12 malam, belum dibayar,” kata M yang berhasil dihubungi JNC Sumedang melalui WhatsApp pada Minggu, 15 Mei 2022.

Informasi belum dibayarnya upah pekerja ini mencuat dari status WA, yang kemudian di uplaod pada Facebook @nasyajunior, pada 4 Mei 2022.

JNC Sumedang sudah mencoba menghubungi pemilik akun maupun dinas terkait, namun belum berhasil hingga berita berjudul “Dibalik Megahnya Masjid Al Kamil Jatigede, Ada Curhatan Warga dan Resiko Longsor” diturunkan, pada 9 Mei 2022.

Hingga akhirnya ada pihak tetangganya yang menghubungi redaksi atas pemberitaan JNC Sumedang. Tetangganya yang peduli, merasa perlu untuk menghubungi JNC Sumedang.

Tetangganya pula, yang kemudian memberikan Nomor WA pekerja yang berinisial M tersebut.

M, membenarkan bahwa status WA yang diupload ke facebook adalah istrinya.

“Mungkin dia jengkel, karena belum dibayar juga. Jadi buat status WA seperti itu. Saya tidak nyangka akan viral. Tapi gak apa-apa lah, da emang kenyataannya demikian,” katanya.

Baca Juga  Bupati Sumedang Lepas Latja Akpol Polres Sumedang

Penelusuran informasi dilakukan oleh JNC Sumedang, atas permintaan dari beberapa netizen. Agar dapat mengkonfirmasi kebenaran dari informasi ini.

“Jika benar, maka harus segera diselesaikan sehingga tidak berbuat kedzoliman dalam pembuatan masjid yang sangat keren ini.” kata seorang netizen.

Pengakuan Pekerja Berinisial M

M, mengaku bekerja di Proyek Masjid Al Kamil, Panenjoan Jatigede Sumedang sejak pekerjaan itu dimulai. Namun dirinya lupa kapan waktunya.

“Pokoknya dari sejak awal. Sejak lahan masih cadas. Saya bekerja di sana (Masjid Al Kamil),” katanya.

Ketika dikonfirmasi tentang apa pekerjaan yang dilakukan di proyek tersebut, M mengaku bekerja sebagai laden atau kenek. Karena tidak memiliki pengalaman sebagai tukang.

“Sebelumnya saya bekerja di restoran, namun dengan adanya pandemi Covid-19 saya dirumahkan. Jadi saya nganggur selama 1 tahun. Pas ada tetangga ngajak kerja di bangunan itu (Masjid Al Kamil), ya saya ikut saja,” katanya polos.

Sebagai laden, M mendapatkan upah sebesar Rp 100.000 per hari, dan dia pulang pergi dengan menggunakan motor, yang bisa menghabiskan bensin hingga Rp 10.000.

Upah sebesar Rp 100.000 per hari tersebut, dia menyebutkan kotor. Karena tidak ada uang makan ataupun ongkos transportasi.

Terkadang M, bekerja lembur hingga jam 6 sore bahkan sempat hingga jam 12 malam, jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera.

Baca Juga  Link Twibbonize untuk Selamat Berpuasa Tahun 2022

M, mengaku tidak kenal dengan pimpinan proyek. Dia diajak sama tetangganya bekerja, dan pembayaranya pun biasanya diterima melalui tetangganya yang berinisial K.

Namun demikian, selama bekerja di proyek itu hampir 3 bulan lamanya, belum pernah mendapatkan uang lemburan.

“Saya selama itu, menerima sebesar Rp 700 ribu seminggu. Untuk makan saya bawa bekel dari rumah, untuk bensin dan rokok saya minta sama istri,” katanya.

“Awalnya pembayaran lancar, namun belakangan sering terlambat. Hingga akhirnya yang pembayaran yang terakhir itu, saya belum dibayar-bayar. Di tanya sama temen, katanya belum turun uangnya. Beberapa hari saya berhenti, karena tidak ada ongkos,” tambahnya.

Karena kesel, tidak ada pembayaran. Akhirnya M, mencoba mengadu nasib lagi untuk kembali bekerja di restoran, di Tangerang.

“Saya coba kontak rekan saya di Tangerang, dan kebetulan membutuhkan pekerja. Sehingga saya berangkat ke Tangerang. Saya berharap dapat bayaran untuk ongkos, ternyata hingga hampir 1 minggu tidak ada kabar lagi, akhirnya nekad berangkat ke Tangerang,” ungkapnya.

M, mengaku tidak pernah ada komunikasi lagi dengan siapapun di pekerjaan tersebut. Dia juga tidak menyangka, jika status WA istrinya dan status FB istrinya, akan menjadi viral.

“Itu mungkin curhatan istri saya. Karena dia jengkel, kerjaan saya belum dibayar,” jelasnya.

Maaf untuk Gubernur

M mengaku tidak ada niat untuk mencemarkan nama baik Sumedang atau Masjid Al Kamil.

Baca Juga  Polres Sumedang Amankan Warga Tanjungsari Pembawa Narkotika

Dia meminta meminta maaf. Baik istirnya maupun Dirinya, tidak ada maksud untuk membuat citra Sumedang, Bupati maupun Gubernur tercoreng dengan kejadian ini.

“Saya tidak ada niat untuk mencemarkan nama baik Sumedang, apalagi nama baik pak Bupati dan pak Gubernur. Saya hanya berharap, masalah ini bisa diselesaikan. Agar apa yang menjadi hak saya untuk istri dan anak saya, bisa ditunaikan. Itu saja,” katanya.

“Jika kemudian status WA istri saya menjadi viral, kepada warga Sumedang saya mohon maaf,” katanya.

M juga membenarkan penelusuran JNC Sumedang bahwa dia bekerja di Bali.

“Oh iya, saya pernah bekerja di Bali selama 5 tahun sebelum kembali ke Sumedang pada tahun 2017,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan JNC Sumedang, sebelumnya. Ternyata pihak Dinas Perkim tidak tahu persoalan ini.

Hingga berita ini diturunkan, JNC Sumedang belum berhasil mengkonfirmasi kepada pihak pimpinan proyek, dari PT Indi Daya Karya. Perusahaan yang beralamat di Jakarta Selatan***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *